Bintang di angkasa kelam itu. Bulan itu. Bukankah itu kita
berdua yang menyinari kelamnya angkasa raya?
Malam itu, 17 tahun umur kita.
Kau dengan khidmatnya mengamati langit itu.
Kau berkata, aku lah bintangnya.
Dan kau… bulanya J
Aku hanya bingung dengan
penuturanmu…
Sambil tersenyum hangat, kau
menatapku…
Dan kau berkata, kita saling
melengkapi, kau dan aku. Aku sang rembulan yang kesepian. Dan kau bintang yang
indah menemaniku dalam kelamnya langit.
J
“benarkah?”
Kau mengangguk dan kembali
menghadap langit.
Aku slalu merasa nyaman
bersamamu. Entah kenapa. Dan entah bagaimana, aku merasa…. Nyaman? Ya aku slalu
merasa nyaman bersamamu.
Kenagan itu begitu dalam.
Berkali-kali aku berusaha untuk membuang memori dirimu dalam benak ku. Setiap
ku slalu berusaha untuk membuanya, ingatan itu lebih jelas lagi.
Ya, aku takkah di ijinkan untuk
melupakan mu, walau aku mau. Aku hanya diijinkan untuk…
‘berdamai pada kenangan bersamamu’
Tak mudah. Tapi tak susah. Perasaan berdamai itu
yang membuat ku masih bisa melihat indahnya tebaran cahaya bintang dan
terangnya cahaya rembulan.
Walau ku tau, semua itu akan
berbeda
Sangat berbeda
Semua itu terasa berbeda… karnamu
menghilang dalam jejak desiran malam.
Karna dirimu tak ada di sisi ku
lagi. Smua itu terasa berbeda. L
Aku tak kan pernah menyesal
mengenalimu. Karana dengan mengenali dirimu aku tau satu hal yang tak pernah ku
temukan tanpamu…
‘kenangan itu indah, saat kau tak pernah berusaha untuk menghindar. Dan
berdamai….’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar