Rabu, 14 November 2012

Damai


Bintang di angkasa kelam itu. Bulan itu. Bukankah itu kita berdua yang menyinari kelamnya angkasa raya?
Malam itu, 17 tahun umur kita. Kau dengan khidmatnya mengamati langit itu.
Kau berkata, aku lah bintangnya. Dan kau… bulanya J
Aku hanya bingung dengan penuturanmu…
Sambil tersenyum hangat, kau menatapku…
Dan kau berkata, kita saling melengkapi, kau dan aku. Aku sang rembulan yang kesepian. Dan kau bintang yang indah menemaniku dalam kelamnya langit.
Jbenarkah?”
Kau mengangguk dan kembali menghadap langit.
Aku slalu merasa nyaman bersamamu. Entah kenapa. Dan entah bagaimana, aku merasa…. Nyaman? Ya aku slalu merasa nyaman bersamamu.
Kenagan itu begitu dalam. Berkali-kali aku berusaha untuk membuang memori dirimu dalam benak ku. Setiap ku slalu berusaha untuk membuanya, ingatan itu lebih jelas lagi.
Ya, aku takkah di ijinkan untuk melupakan mu, walau aku mau. Aku hanya diijinkan untuk…
‘berdamai pada kenangan bersamamu’
Tak  mudah. Tapi tak susah. Perasaan berdamai itu yang membuat ku masih bisa melihat indahnya tebaran cahaya bintang dan terangnya cahaya rembulan.
Walau ku tau, semua itu akan berbeda
Sangat berbeda
Semua itu terasa berbeda… karnamu menghilang dalam jejak desiran malam.
Karna dirimu tak ada di sisi ku lagi. Smua itu terasa berbeda. L
Aku tak kan pernah menyesal mengenalimu. Karana dengan mengenali dirimu aku tau satu hal yang tak pernah ku temukan tanpamu…
‘kenangan itu indah, saat kau tak pernah berusaha untuk menghindar. Dan berdamai….’